tugas kreatif stikes ngudia husada madura
Jumat, 19 Juni 2015
Jumat, 17 Oktober 2014
Paham Empirisme
PAHAM EMPIRISME
2.1 Pengertian
Empirisme
Beberapa pemahaman tentang pengertian empirisme cukup
beragam, namun intinya adalah pengalaman.
Di antara
pemahaman tersebut antara lain:
Empirisme adalah
suatu aliran dalam filsafat yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal
dari pengalaman manusia. Empirisme menolak anggapan bahwa manusia telah membawa
fitrah pengetahuan dalam dirinya ketika dilahirkan. Empirisme lahir di Inggris
dengan tiga eksponennya adalah David Hume, George Berkeley dan John Locke.
Empirisme secara etimologis berasal dari kata bahasa
Inggris empiricism dan experience. Kata-kata ini berakar
dari kata bahasa Yunani έμπειρία (empeiria) yang berarti pengalaman
Sementara menurut A.R. Laceyberdasarkan akar katanya Empirisme adalah aliran
dalam filsafat yang berpandangan
bahwa pengetahuan secara keseluruhan atau parsial didasarkankepada pengalaman
yang menggunakan indera.
Para penganut aliran empiris dalam berfilsafat bertolak
belakang dengan para penganut aliran rasionalisme. Mereka menentang
pendapat-pendapat para penganut rasionalisme yang didasarkan atas
kepastian-kepastian yang bersifat apriori. Menurut pendapat penganut empirisme,
metode ilmu pengetahuan itu bukanlah bersifat a priori tetapi posteriori, yaitu
metode yang berdasarkan atas hal-hal yang datang, terjadinya atau adanya
kemudian.
Bagi penganut empirisme sumber pengetahuan yang
memadai itu adalah pengalaman. Yang dimaksud dengan pengalaman disini adalah
pengalaman lahir yang menyangkut dunia dan pengalaman bathin yang menyangkut
pribadi manusia. Sedangkan akal manusia hanya berfungsi dan bertugas untuk
mengatur dan mengolah bahan-bahan atau data yang diperoleh melalui pengalaman.
2.2 Ajaran-ajaran pokok Empirisme Yaitu:
a. Pandangan bahwa semua ide atau gagasan merupakan
abstraksi yang dibentuk dengan
menggabungkan
apa yang dialami.
b. Pengalaman inderawi adalah satu-satunya sumber
pengetahuan, dan bukan akal atau
rasio.
c. Semua yang kita ketahui pada
akhirnya bergantung pada data inderawi.
d. Semua pengetahuan turun secara langsung, atau di
simpulkan secara tidak langsung dari
data
inderawi (kecuali beberapa kebenaran definisional logika dan matematika).
e. Akal budi sendiri tidak dapat memberikan kita
pengetahuan tentang realitas tanpa acuan
pada
pengalaman inderawi dan penggunaan panca indera kita. Akal budi mendapat
tugas untuk
mengolah bahan bahan yang di peroleh dari pengalaman.
f. Empirisme sebagai filsafat pengalaman, mengakui bahwa
pengalaman sebagai satu-
satunya
sumber pengetahuan.
2.3 Beberapa Jenis Emperisme
a.
Empirio-Kritisisme
Disebut juga
Machisme. Sebuah aliran filsafat yang bersifat subyaktif-idealistik. Aliran ini
didirikan oleh Avenarius dan Mach. Inti aliran ini adalah ingin “membersihkan”
pengertian pengalaman dari konsep substansi, keniscayaan, kausalitas, dan
sebagainya, sebagai pengertian apriori. Sebagai gantinya aliran ini mengajukan
konsep dunia sebagai kumpulan jumlah elemen-elemen netral atau sensasi-sensasi
(pencerapan-pencerapan). Aliran ini dapat dikatakan sebagai kebangkitan kembali
ide Barkeley dan Hume tatapi secara sembunyi-sembunyi, karena dituntut oleh
tuntunan sifat netral filsafat. Aliran ini juga anti metafisik.
b.
Empirisme Logis
Analisis
logis Modern dapat diterapkan pada pemecahan-pemecahan problem filosofis dan
ilmiah. Empirisme Logis berpegang pada pandangan-pandangan berikut:
1)
Ada
batas-batas bagi Empirisme. Prinsip system logika formal dan prinsip kesimpulan
induktif tidak dapat dibuktikan dengan mengacu pada pengalaman.
2)
Semua
proposisi yang benar dapat dijabarkan (direduksikan) pada proposisi-proposisi
mengenai data inderawi yang kurang lebih merupakan data indera yang ada
seketika
3)
Pertanyaan-pertanyaan
mengenai hakikat kenyataan yang terdalam pada dasarnya tidak mengandung makna.
c. Empiris Radikal
Suatu aliran
yang berpendirian bahwa semua pengetahuan dapat dilacak sampai pada pengalaman
inderawi. Apa yang tidak dapat dilacak secara demikian itu, dianggap bukan
pengetahuan. Soal kemungkinan melawan kepastian atau masalah kekeliruan melawan
kebenaran telah menimbulkan banyak pertentangan dalam filsafat. Ada pihak yang
belum dapat menerima pernyataan bahwa penyelidikan empiris hanya dapa
memberikan kepada kita suatu pengetahuan yang belum pasti (Probable). Mereka
mengatakan bahwa pernyataan- pernyataan empiris, dapat diterima sebagai pasti
jika tidak ada kemungkinan untuk mengujinya lebih lanjut dan dengan begitu tak
ada dasar untuk keraguan. Dalam situasi semacam ini, kita tidak hanya berkata:
Aku merasa yakin (I feel certain),
tetapi aku yakin. Kelompok falibisme akan menjawab bahwa: tak ada pernyataan
empiris yang pasti karena terdapat sejumlah tak terbatas data inderawi untuk
setiap benda, dan bukti-bukti tidak dapat ditimba sampai habis sama sekali.
Metode
filsafat ini butuh dukungan metode filsafat lainnya supaya ia lebih berkembang
secara ilmiah. Karena ada kelemahan-kelemahan yang hanya bisa ditutupi oleh
metode filsafat lainnya. Perkawinan antara Rasionalisme dengan Empirisme ini
dapat digambarkan dalam metode ilmiah dengan langkah-langkah berupa perumusan
masalah, penyusunan kerangka berpikir, penyusunan hipotesis, pengujian
hipotesis dan penarikan kesimpulan.
2.4 Tokoh-tokoh Empirisme
Aliran empirisme dibangun oleh Francis Bacon
(1210-1292) dan Thomas Hobes (1588-1679), namun mengalami sistematisasi pada
dua tokoh berikutnya, John Locke dan David Hume.
a. Jonh
Locke (1673-1704)
Ia lahir tahun 1632 di Bristol Inggris dan wafat tahun
1704 di Oates Inggris. Ia juga ahli politik, ilmu alam, dan kedokteran.
Pemikiran John termuat dalam tiga buku pentingnya yaitu essay concerning human
understanding, terbit tahun 1600; letters on tolerantion terbit tahun
1689-1692; dan two treatises on government, terbit tahun 1690. Aliran ini
muncul sebagai reaksi terhadap aliran rasionalisme. Bila rasionalisme
mengatakan bahwa kebenaran adalah rasio, maka menurut empiris, dasarnya ialah
pengalaman manusia yang diperoleh melalui panca indera. Dengan ungkapan singkat
Locke :
Segala
sesuatu berasal dari pengalaman inderawi, bukan budi (otak). Otak tak lebih
dari sehelai kertas yang masih putih, baru melalui pengalamanlah kertas itu
terisi.
Dengan
demikian dia menyamakan pengalaman batiniah (yang bersumber dari akal budi)
dengan pengalaman lahiriah (yang bersumber dari empiri).
b. David
Hume (1711-1776).
David Hume lahir di Edinburg Scotland tahun 1711 dan
wafat tahun 1776 di kota yang sama. Hume seorang nyang menguasai hukum, sastra
dan juga filsafat. Karya tepentingnya ialah an encuiry concercing humen
understanding, terbit tahun 1748 dan an encuiry into the principles of moral
yang terbit tahun 1751.
Pemikiran
empirisnya terakumulasi dalam ungkapannya yang singkat yaitu I never catch my
self at any time with out a perception (saya selalu memiliki persepsi
pada setiap pengalaman saya). Dari ungkapan ini Hume menyampaikan bahwa seluruh
pemikiran dan pengalaman tersusun dari rangkaian-rangkaian kesan (impression).
Pemikiran ini lebih maju selangkah dalam merumuskan bagaimana sesuatu
pengetahuan terangkai dari pengalaman, yaitu melalui suatu institusi dalam diri
manusia (impression, atau kesan yang disistematiskan ) dan kemudian menjadi
pengetahuan. Di samping itu pemikiran Hume ini merupakan usaha analisias agar
empirisme dapat di rasionalkan teutama dalam pemunculan ilmu pengetahuan yang
di dasarkan pada pengamatan “(observasi ) dan uji coba (eksperimentasi),
kemudian menimbulkan kesan-kesan, kemudian pengertian-pengertian dan akhirnya
pengetahuan.
Empirisme menganjurkan agar kita kembali kepada
kenyataan yang sebenarnya (alam) untuk mendapatkan pengetahuan, karena
kebenaran tidak ada secara apriori di benak kita melainkan harus diperoleh dari
pengalaman. Melalui pandangannya, pengetahuan yang hanya dianggap valid adalah
bentuk yang dihasilkan oleh fungsi pancaindra selain daripadanya adalah bukan kebenaran
(baca omong kosong). Dan mereka berpendapat bahwa tidak dapat dibuat sebuah
klaim (pengetahuan) atas perkara dibalik penampakan (noumena) baik melalui
pengalaman faktual maupun prinsip-prinsip keniscayaan. Artinya dimensi
pengetahuan hanya sebatas persentuhan alam dengan pancaindra, diluar
perkara-perkara pengalaman yang dapat tercerap secara fisik adalah tidak valid
dan tidak dapat diketahui dan tidak dianggap keabsahan sumbernya.
Usaha manusia untuk mencari pengetahuan yang bersifat, mutlak dan pasti telah
berlangsung dengan penuh semangat dan terus-menerus. Walaupun begitu, paling
tidak sejak zaman Aristoteles, terdapat tradisi epistemologi yang kuat untuk
mendasarkan din kepada pengalaman manusia, dan meninggalkan cita-cita untuk mencari
pengetahuan yang mutlak tersebut. Doktrin empirisme merupakan contoh dan
tradisi ini. Kaum empiris berdalil bahwa adalah tidak beralasan untuk mencari
pengetahuan mutlak dan mencakup semua segi, apalagi bila di dekat kita,
terdapat kekuatan yang dapat dikuasai untuk rneningkatkan pengetahuan manusia,
yang meskipun bersifat lebih lambat namun lebih dapat diandalkan. Kaum empiris
cukup puas dengan mengembangkan sebuah sistern pengetahuan yang rnempunyai
peluang yang besar untuk benar, meskipun kepastian mutlak takkan pernah dapat
dijamin.
Kaum empiris memegang teguh pendapat bahwa pengetahuan manusia dapat diperoleh
lewat pengalaman. Jika kita sedang berusaha untuk meyakinkan seorang empiris
bahwa sesuatu itu ada, dia akan berkata “Tunjukkan hal itu kepada saya”. Dalam
persoalan mengenai fakta maka dia harus diyakinkan oleh pengalamannya sendiri.
Jika kita meng takan kepada dia bahwa ada seekor harimau di kamar mandinya,
pertama dia minta kita untuk menceriterakan bagairnana kita sampai pada kesimpulan
itu. Jika kemudian kita terangkan bahwa kita melihat harimau itu dalam kamar
mandi, baru kaum empiris akan mau mendengar laporan mengenai pengalaman kita
itu, namun dia hanya akan menerima hal tersebutjika dia atau orang lain dapat
memeriksa kebenaran yang kita ajukan, denganjalan melihat harimau itu dengan
mata kepalanya sendiri.
2.5 Telaah Kritis
atas Pemikiran Filsafat Empirisme
Meskipun aliran filsafat empirisme memiliki beberapa
keunggulan bahkan memberikan andil atas beberapa pemikiran selanjutnya,
kelemahan aliran ini cukup banyak. Prof. Dr. Ahmad Tafsir mengkritisi empirisme
atas empat kelemahan, yaitu:
a)
Indera
terbatas, benda yang jauh kelihatan kecil padahal tidak. Keterbatasan kemampuan
indera ini dapat melaporkan obyek tidak sebagaimana adanya.
b)
Indera
menipu, pada orang sakit malaria, gula rasanya pahit, udara panas dirasakan
dingin. Ini akan menimbulkan pengetahuan empiris yang salah juga.
c)
Obyek yang
menipu, conthohnya ilusi, fatamorgana. Jadi obyek itu sebenarnya tidak
sebagaimana ia ditangkap oleh alat indera; ia membohongi indera. Ini jelas
dapat menimbulkan pengetahuan inderawi salah.
d)
Kelemahan
ini berasal dari indera dan obyek sekaligus. Dalam hal ini indera (di sisi
meta) tidak mampu melihat seekor kerbau secara keseluruhan dan kerbau juga
tidak dapat memperlihatkan badannya secara keseluruhan.
Metode empiris tidak dapat diterapkan dalam semua
ilmu, juga menjadi kelemahan aliran ini, metode empiris mempunyai lingkup
khasnya dan tidak bisa diterapkan dalam ilmu lainnya. Misalnya dengan
menggunakan analisis filosofis dan rasional, filosuf tidak bisa mengungkapkan
bahwa benda terdiri atas timbuanan molekul atom, bagaimana komposisi kimiawi
suatu makhluk hidup, apa penyebab dan obat rasa sakit pada binatang dan
manusia. Di sisi lain seluruh obyek tidak bisa dipecahkan lewat pengalaman
inderawi seperti hal-hal yang immaterial. Kelebihan paham empirisme yaitu pengalaman indera
merupakan sumber pengetahuan yang benar, karena faham empiris mengedepankan
fakta-fakta yang terjadi di lapangan
2.6 Penerapan Empirisme
a.
Penerapan empirisme pada kehidupan
sehari – harinya terbilang sederhana. Penerapan empirisme berarti manusia
menggunakan pengalamannya sebagai pengetahuan. Pada lingkup pendidikan
misalnya, salah satu contoh penerapan empirisme adalah pelaksanaan Experiental Learning, yakni
pendekatan yang dilakukan oleh guru kepada siswa , yang berlandaskan pemikiran
bahwa cara belajar terbaik adalah dari pengalaman. Metode ini berarti
lebih menekankan siswa agar lebih aktif dalam kegiatan belajar , daripada
terpaku pada teori di buku.
b.
Penerapan empirisme pada pribadi
dapat diambil contoh seperti ketika seseorang ingin mencari tahu seperti apa
rasa sebuah cabai, maka ia harus merasakan dengan memakan cabai tersebut.
Setelah ia mencobanya, ia akan mengetahui bahwa cabai itu pedas.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Emperisme
merupakan suatu paham filsafat yang menggunakan pengalaman dalam memperoleh
pengetahuan. Empirisme merupakan lawan dari rasionalisme. Dalam empirisme,
pengetahuan tentang kebenaran yang sempurna tidak diperoleh melalui akal,
melainkan di peroleh dari panca indera. Akan tetapi empirisme tidak dapat
digunakan dalam semua ilmu. Metode empiris mempunyai lingkup khasnya dan tidak
bisa diterapkan dalam ilmu lainnya. Contohnya seperti obyek yang tidak bisa
dipecahkan lewat pengalaman inderawi seperti hal-hal yang immaterial. Selain
itu, terbatasnya fungsi indera menyebabkan sempitnya lingkup yang dapat
dijangkau dengan empirisme.
Minggu, 12 Oktober 2014
TUGAS IKD RESTRAIN FISIK (PASUNG)
2.1
Definisi
Restraint
(dalam psikiatrik) secara umum mengacu pada suatu bentuk tindakan
menggunakan tali untuk mengekang atau membatasi gerakan ekstremitas individu
yang berperilaku di luar kendali yang bertujuan memberikan keamanan fisik dan
psikologis individu.
Restraint
(fisik) merupakan alternative terakhir intervensi jika dengan intervensi
verbal, chemical restraint mengalami kegagalan. Seklusi merupakan bagian dari restraint
fisik yaitu dengan menempatkan klien di sebuah ruangan tersendiri untuk
membatasi ruang gerak dengan tujuan meningkatkan keamanan dan kenyamanan klien.
Perawat
perlu mengkaji apakah restraint di perlukan atau tidak. Restrein seringkali
dapat dihindari dengan persiapan pasien yang adekuat, pengawasan orang tua atau
staf terhadap pasien, dan proteksi adekuat terhadap sisi yang rentan seperti
alat infus. Perawat perlu mempertimbangkan perkembangan pasien, status mental,
ancaman potensial pada diri sendiri atau orang lain dan keamannnya.
a.
Indikasi Penggunaan Restrain
Penggunaan
tekhnik pengendalian fisik (restrain) dapat siterapkan dalam keadaan: Pasien
yang membutuhkan diagnosa atau perawatan dan tidak bisa menjadi
kooperatif karena suatu keterbatasan misalnya : pasien dibawah umur,
pasien agresif atau aktif dan pasien yang memiliki retardasi mental. Ketika
keamanan pasien atau orang lain yang terlibat dalam perawatan dapatterancam
tanpa pengendalian fisik (restraint). Sebagai bagian dari suatu perawatan
ketika pasien dalam pengaruh obat sedasi.
b.
Kontraindikasi Pengunaan Restrain
Penggunaan
teknik pengendalian fisik (restraint) tidak boleh diterapkan dalam keadaan
yaitu: Tidak bisa mendapatkan izin tertulis dari orang tua pasien untuk melakspasienan prosedur
kegiatan. Pasien pasien kooperatif. Pasien pasien memiliki komplikasi kondisi
fisik atau mental Penggunaan teknik pengendalian fisik (restraint) pada pasien
dalam penatalaksanaanya harus memenuhi syarat-syarat yaitu sebagai berikut: Penjelasan
kepada pasien pasien mengapa pengendalian fisik (restraint) dibutuhkandalam
perawatan, dengan harapan memberikan kesempatan kepada pasien
untuk memahami bahwa perawatan yang akan diberikan sesuai prosedur dan
aman badi pasien maupun keluarga yang bersangkutan. Memiliki izin verbal
maupun izin tertulis dari psikiater yang menjelaskan jenis
teknik pengendalian fisik yang boleh digunakan kepada pasien pasien
dan pentingnya teknik pengendalian fisik yang dapat digunakan
terhadap pasien berdasarkan indikasi-indikasi yang muncul. Adanya dokumen yang
menjelaskan kepada orang tua pasien pasien maupun pihak keluarga pasien
yang bersangkutan mengapa pengendalian fisik (restraint) dibutuhkan dalam
perawatan. Adanya penilaian berdasarkan pedoman rumah sakit dari pasien yang
pernahmenjalankan pengendalian fisik (restraint) untuk memastikan bahwa
pengendalian fisik tersebut telah diaplikasikan secara benar, serta memastikan
integritas kulit dan status neurovaskular pasien tetap dalam keadaan baik.
Perlu digunakan teknik pengendalian fisik
(restraint) adalah karena tenaga kesehatan harus mengutamakan kebutuhan
kesehatan pasien, teknik pengendalian tersebut dapat dilakspasienan dengan cara
menjaga keamanan pasien ataupun keluarga yang bersangkutan, mengontrol
tingkat agitasi dan agresi pasien, mengontrol perilaku pasien, serta
menyediakan dukungan fisik bagi pasien.
2.2 Hal-hal yang perlu di perhatikan dalam penggunaan Restraint
Pada
kondisi gawat darurat, restrain/seklusi dapat dilakukan tanpa order dokter. Sesegera
mungkin (< 1jam) setelah melakukan restrain, perawat melaporkan pada dokter
untuk mendapatkan legalitas tindakan baik secara verbal maupun tertulis. Intervensi
restrain dibatasi waktu yaitu: 4 jam untuk klien berusia >18 tahun, 2 jam
untuk usia 9-17 tahun, dan 1 jam untuk umur <9 tahun. Evaluasi dilakukan 4
jam untuk klien >18tahun, 2 jam untuk pasien-pasien dan usia 9-17 tahun. Waktu
minimal reevaluasi oleh dokter adalah 8 jam untuk usia >18 tahun dan 4 jam
untuk usia <17 tahun. Selama restrain klien di observasi tiap 10-15 menit,
dengan fokus observasi: Tanda-tanda cedera yang berhubungan dengan restrain Nutrisi
dan hidrasi sirkulasi dan rentang gerak
eksstremitas tanda penting kebersihan
dan eliminasi status fisik dan psikologis kesiapan klien untuk
dibebaskan dari restrain
Alat
restrain bukan tanpa resiko dan harus diperiksa dan di dokumentasikan setiap
1-2 jam untuk memastikan bahwa alat tersebut mencapai tujuan pemasangannya,
bahwa alat tersebut dipasang dengan benar dan bahwa alat tersebut tidak merusak
sirkulasi, sensai, atau integritas kulit.
Selekman dan Snyder (1997)
merekomendasikan intervensi keperawatan yang tepat untuk pasien yang direstrain
adalah:
Lepaskan
dan pasang kembali restrain secara periodic
Lakukan tindakan untuk memberi rasa
nyaman, gunakan pelukan terapeutik bukan restrain mekanik Lakukan latihan
rentan gerak jika diperlukanTawarkan makanan, minuman dan bantuan untuk
eliminasi, beri pasien dot. Diskusikan kriteria pelepasan restrain . Berikan
analgesik dan sedatif jika diinstruksikan atau di mintaHindari kemarahan
psikologik kepada pasien lain. Berikan distraksi (membaca buku) dan sentuhan pertahankan
harga diri pasien lakukan pengkajian keperawatan yang kontinu dokumentasikan
penggunaan restrain
2.3 Jenis-jenis Restrain
Pengendalian
fisik (physical restraint) dengan menggunakan alat pengendalian fisik
dengan menggunakan alat merupakan bentuk pengendalian dengan menggunakan
bantuan alat bantu untuk menahan gerakan tubuh dan kepala pasien maupu nmenahan
gerakan rahang dan mulut pasien.
a. Alat bantu untuk menahan gerakan
tubuh dan kepala pasien
1. Sheet and ties
Penggunaan
selimut untuk membungkus tubuh pasien supaya tidak bergerak dengan cara melingkarkan
selimut ke seluruh tubuh pasien dan menahan selimutnya dengan perekat atau
mengikatnya dengan tali.
2. Restraint Jaket
Restraint
jaket digunakan pada pasien dengan tali diikat dibelakang tempat tidur sehingga
pasien tidak dapat membukanya. Pita panjang diikatkan ke bagian bawah tempat
tidur, menjaga pasien tetap di dalam tempat tidur. Restrain jaket berguna
sebagai alat mempertahankan pasien pada posisi horizontal yang diinginkan.
3. Papoose board
Papoose
board merupakan alat yang biasa digunakan untuk menahan gerak pasien saat
melakukan perawatan gigi. Cara penggunaannya adalah pasien ditidurkan
dalam posisi terlentang di atas papan
datar dan bagian atas tubuh, tengah tubuh dan kaki pasien diikat dengan
menggunakan tali kain yang besar. Pengendalian dengan menggunakan papoose
board dapat diaplikasikan dengan cepat untuk mencegah pasien berontak dan
menolak perawatan. Tujuan utama dari penggunaan alat ini adalah untuk menjaga
supaya pasien pasien tidak terluka saat mendapatkan perawatan.
4. Restraint Mumi atau Bedong
Selimut atau kain dibentangkan
diatas tempat tidur dengan salah satu ujungnya dilipat ke tengah. Pasien
diletakkan di atas selimut tersebut dengan bahu berada di lipatan dan kaki ke
arah sudut yang berlawanan.
Lengan kanan pasien lurus kebawah
rapat dengan tubuh, sisi kanan selimut ditarik ke tengah melintasi bahu kanan pasien
dan dada diselipkan dibawah sisi tubuh bagian kiri. Lengan kiri pasien
diletakkan lurus rapat dengan tubuh pasien, dan sisi kiri selimut dikencangkan
melintang bahu dan dada dikunci dibawah tubuh pasien bagian kanan. Sudut bagian
bawah dilipat dan ditarik kearah tubuh dan diselipkan atau dikencangkan dengan
pinpengaman.
5. Restraint Lengan dan Kaki
Restraint
pada lengan dan kaki kadang-kadang digunakan untuk mengimobilisasi satu atau
lebih ekstremitas guna pengobatan atau prosedur, atau untuk memfasilitasi
penyembuhan. Beberapa alat restraint yang da di pasaran atau yang tersedia,
termasuk restraint pergelangan tangan atau kaki sekali pakai, atau dapat dibuat
dari pita kasa, kain muslin, atau tali stockinette tipis. Jika restraint jenis
ini di gunakan, ukurannya harus sesuai dengan tubuh pasien. Harus dilapisi
bantalan untuk mencegah tekanan yang tidak semestinya, konstriksi, atau cidera
jaringan. Pengamatan ekstremitas harus sering dilakukan untuk memeriksa adanya
tanda-tanda iritasi dan atau gangguan sirkulasi. Ujung restraint tidak boleh
diikat ke penghalang tempat tidur, karena jika penghalang tersebut diturunkan
akan mengganggu ekstremitas yang sering disertai sentakan tiba-tiba yang dapat
menciderai pasien.
6. Restraint siku
Adalah
tindakan mencegah pasien menekuk siku atau meraih kepala atau wajah.
Kadang-kadang penting dilakukan pada pasien setelah bedah bibir atau agar pasien
tidak menggaruk pada kulit yang terganggu. Bentuk restraint siku paling banyak
digunakan, terdiri dari seutas kain muslin yang cukup panjang untuk mengikat
tepat dari bawah aksila sampai ke pergelangan tangan dengan sejumlah kantong
vertikal tempat dimasukkannya depresor lidah. Restraint di lingkarkan di
seputar lengan dan direkatkan dengan plester atau pin.
7. Pedi-wrap
Pedi-wrap
merupakan sejenis perban kain yang dilingkarkan pada leher
sampai pergelangan kaki pasien pasien untuk menstabilkan tubuh pasien
serta menahan gerakan tubuh pasien. Pedi-wrap mempunyai berbagai variasi ukuran
sesuai dengan kebutuhan. Alat bantu untuk menahan gerakan mulut dan rahang
pasien
8. Molt Mouth Prop
Molt
mouth prop merupakan salah satu alat yang paling penting dalam melakukan
perawatan gigi. Alat ini biasanya digunakan dalam anestesi umum untuk mencegah
supaya mulut tidak tertutup saat perawatan dilakukan. Alat ini juga sangat
cocok dalam penanganan pasien yang tidak bisa membuka mulut dalam jangka waktu
lama karena suatu keterbatasan. Penggunaan molt mouth prop harus memperhatikan posisi rahang pasien saat pasien membuka mulutnya,
supaya tidak terjadi dislokasi temporomandibular. Sebagai tambahan, dokter gigi
harus memindahkan molt mouth prop dari mulut pasien setiap sepuluh hingga lima
belas menit agar rahang dan mulut pasien dapat beristirahat.
9. Molt Mouth Gags
Molt
mouth gags juga merupakan salah satu alat bantu yang dapat digunakan untuk
menahan mulut pasien.
10. Tongue Blades
Tongue
blades merupakan alat bantu yang digunakan untuk menahan lidah pasien
supaya tidak mengganggu proses perawatan
b. Pengendalian fisik (physical restraint)
tanpa bantuan alat
Pengendalian
fisik tanpa bantuan alat merupakan bentuk pengendalian fisik tanpa menggunakan
bantuan alat, pengendalian bentuk ini merupakan bentuk pengendalian yang
menggunakan bantuan perawat maupun bantuan orang tua atau pihak
keluarga pasien. Pengendalian fisik dengan bantuan tenaga kesehatan pengendalian
fisik dengan menggunakan bantuan tenaga kesehatan merupakan
bentuk pengendalian fisik dimana diperlukan tenaga kesehatan,
misalnya perawat untuk menahan gerakan pasien pasien dengan cara memegang
kepala, lengan, tangan ataupun kaki pasien pasien. Pengendalian fisik
dengan bantuan orang tua pasien pengendalian fisik dengan bantuan orang tua
sebenarnya sama dengan pengendalian fisik dengan bantuan tim medis (tenaga
kesehatan). Hanya saja peran perawat digantikan oleh orang tua pasien pasien.
Cara pengendalian dengan menggunakan bantuan orang tua lebih disukai pasien
apabila dibandingkan dengan menggunakan bantuan tim medis, sebab pasien lebih
merasa aman apabila dekat dengan orang tuanya.
2.4 Resiko Penggunaan Restraint pada
Pasien
Terdapat beberapa laporan ilmiah mengenai kematian pasien pasien
yang disebabkan oleh penggunaan teknik pengendalian fisik (restraint). Hubungan
kematian pasien dengan gangguan psikologi yang disebabkan penggunaan
restraint adalah dimana ketika pengendalian fisik (restrain) dilakukan, pasien pasien mengalami
reaksi psikologis yang tidak normal, yaitu seperti menigkatnya suhu tubuh,
cardiac arrhythmia yang kemudian dapat menyebabkan timbulnya positional
asphyxia, excited delirium, acute pulmonary edema, atau pneumonitis yang
dapat menyebabkan kematian pada pasien.
2.5
Peranan Pemerintah Dalam Menangani
ODGJ
a.
Mencapai masyarakat Indonesia yang bebas dari tindakan
pemasungan terhadap orang dengan gangguan jiwa, melalui:
1.
Terselenggaranya perlindungan HAM bagi orang dengan gangguan
jiwa. Tercapainya.
2.
peningkatan pengetahuan dari seluruh pemangku kepentingan di
bidang kesehatan jiwa.
3.
Terselenggaranya pelayanan kesehatan jiwa yang bekualitas di
setiap tingkat layanan
masyarakat.
4.
Tersedianya skema pembiayaan yang memadai untuk semua bentuk
upaya kesehatan jiwa di tingkat pusat maupun daerah.
5.
Tercapainya kerjasama dan koordinasi lintas sektor di bidang
upaya kesehatan jiwa.
6.
Terselenggaranya sistem monitoring dan evaluasi di bidang
upaya kesehatan jiwa
b.
Penangulangan Pemasungan
1. menyediakan
fasilitas rehabilitasi ODGJ serta
2. menyediakan
anggaran dalam penanganan ODGJ
3. menyediakan
obat-obatan yang diperlukan dalam pencegahan kekambuhan bagi ODGJ.
4. meningkatkan
upaya promotif bagi masyarakat dalam hal kesehatan jiwa agar masyarakat
mengetahui masalah kesehatan jiwa, dilakukannya berbagai upaya untuk mencegah
dan menangani masalah kesehatan jiwa, menghargai dan melindungi ODGJ, serta
memberdayakan ODGJ.
|
KOMPONEN
|
|
SWASTA
|
|
MASYARAKAT
|
|
INDONESIA
2015 BEBAS
PASUNG
|
|
PEMDA
|
|
|
|
PEMERINTAH
|
Langganan:
Komentar (Atom)
