PAHAM EMPIRISME
2.1 Pengertian
Empirisme
Beberapa pemahaman tentang pengertian empirisme cukup
beragam, namun intinya adalah pengalaman.
Di antara
pemahaman tersebut antara lain:
Empirisme adalah
suatu aliran dalam filsafat yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal
dari pengalaman manusia. Empirisme menolak anggapan bahwa manusia telah membawa
fitrah pengetahuan dalam dirinya ketika dilahirkan. Empirisme lahir di Inggris
dengan tiga eksponennya adalah David Hume, George Berkeley dan John Locke.
Empirisme secara etimologis berasal dari kata bahasa
Inggris empiricism dan experience. Kata-kata ini berakar
dari kata bahasa Yunani έμπειρία (empeiria) yang berarti pengalaman
Sementara menurut A.R. Laceyberdasarkan akar katanya Empirisme adalah aliran
dalam filsafat yang berpandangan
bahwa pengetahuan secara keseluruhan atau parsial didasarkankepada pengalaman
yang menggunakan indera.
Para penganut aliran empiris dalam berfilsafat bertolak
belakang dengan para penganut aliran rasionalisme. Mereka menentang
pendapat-pendapat para penganut rasionalisme yang didasarkan atas
kepastian-kepastian yang bersifat apriori. Menurut pendapat penganut empirisme,
metode ilmu pengetahuan itu bukanlah bersifat a priori tetapi posteriori, yaitu
metode yang berdasarkan atas hal-hal yang datang, terjadinya atau adanya
kemudian.
Bagi penganut empirisme sumber pengetahuan yang
memadai itu adalah pengalaman. Yang dimaksud dengan pengalaman disini adalah
pengalaman lahir yang menyangkut dunia dan pengalaman bathin yang menyangkut
pribadi manusia. Sedangkan akal manusia hanya berfungsi dan bertugas untuk
mengatur dan mengolah bahan-bahan atau data yang diperoleh melalui pengalaman.
2.2 Ajaran-ajaran pokok Empirisme Yaitu:
a. Pandangan bahwa semua ide atau gagasan merupakan
abstraksi yang dibentuk dengan
menggabungkan
apa yang dialami.
b. Pengalaman inderawi adalah satu-satunya sumber
pengetahuan, dan bukan akal atau
rasio.
c. Semua yang kita ketahui pada
akhirnya bergantung pada data inderawi.
d. Semua pengetahuan turun secara langsung, atau di
simpulkan secara tidak langsung dari
data
inderawi (kecuali beberapa kebenaran definisional logika dan matematika).
e. Akal budi sendiri tidak dapat memberikan kita
pengetahuan tentang realitas tanpa acuan
pada
pengalaman inderawi dan penggunaan panca indera kita. Akal budi mendapat
tugas untuk
mengolah bahan bahan yang di peroleh dari pengalaman.
f. Empirisme sebagai filsafat pengalaman, mengakui bahwa
pengalaman sebagai satu-
satunya
sumber pengetahuan.
2.3 Beberapa Jenis Emperisme
a.
Empirio-Kritisisme
Disebut juga
Machisme. Sebuah aliran filsafat yang bersifat subyaktif-idealistik. Aliran ini
didirikan oleh Avenarius dan Mach. Inti aliran ini adalah ingin “membersihkan”
pengertian pengalaman dari konsep substansi, keniscayaan, kausalitas, dan
sebagainya, sebagai pengertian apriori. Sebagai gantinya aliran ini mengajukan
konsep dunia sebagai kumpulan jumlah elemen-elemen netral atau sensasi-sensasi
(pencerapan-pencerapan). Aliran ini dapat dikatakan sebagai kebangkitan kembali
ide Barkeley dan Hume tatapi secara sembunyi-sembunyi, karena dituntut oleh
tuntunan sifat netral filsafat. Aliran ini juga anti metafisik.
b.
Empirisme Logis
Analisis
logis Modern dapat diterapkan pada pemecahan-pemecahan problem filosofis dan
ilmiah. Empirisme Logis berpegang pada pandangan-pandangan berikut:
1)
Ada
batas-batas bagi Empirisme. Prinsip system logika formal dan prinsip kesimpulan
induktif tidak dapat dibuktikan dengan mengacu pada pengalaman.
2)
Semua
proposisi yang benar dapat dijabarkan (direduksikan) pada proposisi-proposisi
mengenai data inderawi yang kurang lebih merupakan data indera yang ada
seketika
3)
Pertanyaan-pertanyaan
mengenai hakikat kenyataan yang terdalam pada dasarnya tidak mengandung makna.
c. Empiris Radikal
Suatu aliran
yang berpendirian bahwa semua pengetahuan dapat dilacak sampai pada pengalaman
inderawi. Apa yang tidak dapat dilacak secara demikian itu, dianggap bukan
pengetahuan. Soal kemungkinan melawan kepastian atau masalah kekeliruan melawan
kebenaran telah menimbulkan banyak pertentangan dalam filsafat. Ada pihak yang
belum dapat menerima pernyataan bahwa penyelidikan empiris hanya dapa
memberikan kepada kita suatu pengetahuan yang belum pasti (Probable). Mereka
mengatakan bahwa pernyataan- pernyataan empiris, dapat diterima sebagai pasti
jika tidak ada kemungkinan untuk mengujinya lebih lanjut dan dengan begitu tak
ada dasar untuk keraguan. Dalam situasi semacam ini, kita tidak hanya berkata:
Aku merasa yakin (I feel certain),
tetapi aku yakin. Kelompok falibisme akan menjawab bahwa: tak ada pernyataan
empiris yang pasti karena terdapat sejumlah tak terbatas data inderawi untuk
setiap benda, dan bukti-bukti tidak dapat ditimba sampai habis sama sekali.
Metode
filsafat ini butuh dukungan metode filsafat lainnya supaya ia lebih berkembang
secara ilmiah. Karena ada kelemahan-kelemahan yang hanya bisa ditutupi oleh
metode filsafat lainnya. Perkawinan antara Rasionalisme dengan Empirisme ini
dapat digambarkan dalam metode ilmiah dengan langkah-langkah berupa perumusan
masalah, penyusunan kerangka berpikir, penyusunan hipotesis, pengujian
hipotesis dan penarikan kesimpulan.
2.4 Tokoh-tokoh Empirisme
Aliran empirisme dibangun oleh Francis Bacon
(1210-1292) dan Thomas Hobes (1588-1679), namun mengalami sistematisasi pada
dua tokoh berikutnya, John Locke dan David Hume.
a. Jonh
Locke (1673-1704)
Ia lahir tahun 1632 di Bristol Inggris dan wafat tahun
1704 di Oates Inggris. Ia juga ahli politik, ilmu alam, dan kedokteran.
Pemikiran John termuat dalam tiga buku pentingnya yaitu essay concerning human
understanding, terbit tahun 1600; letters on tolerantion terbit tahun
1689-1692; dan two treatises on government, terbit tahun 1690. Aliran ini
muncul sebagai reaksi terhadap aliran rasionalisme. Bila rasionalisme
mengatakan bahwa kebenaran adalah rasio, maka menurut empiris, dasarnya ialah
pengalaman manusia yang diperoleh melalui panca indera. Dengan ungkapan singkat
Locke :
Segala
sesuatu berasal dari pengalaman inderawi, bukan budi (otak). Otak tak lebih
dari sehelai kertas yang masih putih, baru melalui pengalamanlah kertas itu
terisi.
Dengan
demikian dia menyamakan pengalaman batiniah (yang bersumber dari akal budi)
dengan pengalaman lahiriah (yang bersumber dari empiri).
b. David
Hume (1711-1776).
David Hume lahir di Edinburg Scotland tahun 1711 dan
wafat tahun 1776 di kota yang sama. Hume seorang nyang menguasai hukum, sastra
dan juga filsafat. Karya tepentingnya ialah an encuiry concercing humen
understanding, terbit tahun 1748 dan an encuiry into the principles of moral
yang terbit tahun 1751.
Pemikiran
empirisnya terakumulasi dalam ungkapannya yang singkat yaitu I never catch my
self at any time with out a perception (saya selalu memiliki persepsi
pada setiap pengalaman saya). Dari ungkapan ini Hume menyampaikan bahwa seluruh
pemikiran dan pengalaman tersusun dari rangkaian-rangkaian kesan (impression).
Pemikiran ini lebih maju selangkah dalam merumuskan bagaimana sesuatu
pengetahuan terangkai dari pengalaman, yaitu melalui suatu institusi dalam diri
manusia (impression, atau kesan yang disistematiskan ) dan kemudian menjadi
pengetahuan. Di samping itu pemikiran Hume ini merupakan usaha analisias agar
empirisme dapat di rasionalkan teutama dalam pemunculan ilmu pengetahuan yang
di dasarkan pada pengamatan “(observasi ) dan uji coba (eksperimentasi),
kemudian menimbulkan kesan-kesan, kemudian pengertian-pengertian dan akhirnya
pengetahuan.
Empirisme menganjurkan agar kita kembali kepada
kenyataan yang sebenarnya (alam) untuk mendapatkan pengetahuan, karena
kebenaran tidak ada secara apriori di benak kita melainkan harus diperoleh dari
pengalaman. Melalui pandangannya, pengetahuan yang hanya dianggap valid adalah
bentuk yang dihasilkan oleh fungsi pancaindra selain daripadanya adalah bukan kebenaran
(baca omong kosong). Dan mereka berpendapat bahwa tidak dapat dibuat sebuah
klaim (pengetahuan) atas perkara dibalik penampakan (noumena) baik melalui
pengalaman faktual maupun prinsip-prinsip keniscayaan. Artinya dimensi
pengetahuan hanya sebatas persentuhan alam dengan pancaindra, diluar
perkara-perkara pengalaman yang dapat tercerap secara fisik adalah tidak valid
dan tidak dapat diketahui dan tidak dianggap keabsahan sumbernya.
Usaha manusia untuk mencari pengetahuan yang bersifat, mutlak dan pasti telah
berlangsung dengan penuh semangat dan terus-menerus. Walaupun begitu, paling
tidak sejak zaman Aristoteles, terdapat tradisi epistemologi yang kuat untuk
mendasarkan din kepada pengalaman manusia, dan meninggalkan cita-cita untuk mencari
pengetahuan yang mutlak tersebut. Doktrin empirisme merupakan contoh dan
tradisi ini. Kaum empiris berdalil bahwa adalah tidak beralasan untuk mencari
pengetahuan mutlak dan mencakup semua segi, apalagi bila di dekat kita,
terdapat kekuatan yang dapat dikuasai untuk rneningkatkan pengetahuan manusia,
yang meskipun bersifat lebih lambat namun lebih dapat diandalkan. Kaum empiris
cukup puas dengan mengembangkan sebuah sistern pengetahuan yang rnempunyai
peluang yang besar untuk benar, meskipun kepastian mutlak takkan pernah dapat
dijamin.
Kaum empiris memegang teguh pendapat bahwa pengetahuan manusia dapat diperoleh
lewat pengalaman. Jika kita sedang berusaha untuk meyakinkan seorang empiris
bahwa sesuatu itu ada, dia akan berkata “Tunjukkan hal itu kepada saya”. Dalam
persoalan mengenai fakta maka dia harus diyakinkan oleh pengalamannya sendiri.
Jika kita meng takan kepada dia bahwa ada seekor harimau di kamar mandinya,
pertama dia minta kita untuk menceriterakan bagairnana kita sampai pada kesimpulan
itu. Jika kemudian kita terangkan bahwa kita melihat harimau itu dalam kamar
mandi, baru kaum empiris akan mau mendengar laporan mengenai pengalaman kita
itu, namun dia hanya akan menerima hal tersebutjika dia atau orang lain dapat
memeriksa kebenaran yang kita ajukan, denganjalan melihat harimau itu dengan
mata kepalanya sendiri.
2.5 Telaah Kritis
atas Pemikiran Filsafat Empirisme
Meskipun aliran filsafat empirisme memiliki beberapa
keunggulan bahkan memberikan andil atas beberapa pemikiran selanjutnya,
kelemahan aliran ini cukup banyak. Prof. Dr. Ahmad Tafsir mengkritisi empirisme
atas empat kelemahan, yaitu:
a)
Indera
terbatas, benda yang jauh kelihatan kecil padahal tidak. Keterbatasan kemampuan
indera ini dapat melaporkan obyek tidak sebagaimana adanya.
b)
Indera
menipu, pada orang sakit malaria, gula rasanya pahit, udara panas dirasakan
dingin. Ini akan menimbulkan pengetahuan empiris yang salah juga.
c)
Obyek yang
menipu, conthohnya ilusi, fatamorgana. Jadi obyek itu sebenarnya tidak
sebagaimana ia ditangkap oleh alat indera; ia membohongi indera. Ini jelas
dapat menimbulkan pengetahuan inderawi salah.
d)
Kelemahan
ini berasal dari indera dan obyek sekaligus. Dalam hal ini indera (di sisi
meta) tidak mampu melihat seekor kerbau secara keseluruhan dan kerbau juga
tidak dapat memperlihatkan badannya secara keseluruhan.
Metode empiris tidak dapat diterapkan dalam semua
ilmu, juga menjadi kelemahan aliran ini, metode empiris mempunyai lingkup
khasnya dan tidak bisa diterapkan dalam ilmu lainnya. Misalnya dengan
menggunakan analisis filosofis dan rasional, filosuf tidak bisa mengungkapkan
bahwa benda terdiri atas timbuanan molekul atom, bagaimana komposisi kimiawi
suatu makhluk hidup, apa penyebab dan obat rasa sakit pada binatang dan
manusia. Di sisi lain seluruh obyek tidak bisa dipecahkan lewat pengalaman
inderawi seperti hal-hal yang immaterial. Kelebihan paham empirisme yaitu pengalaman indera
merupakan sumber pengetahuan yang benar, karena faham empiris mengedepankan
fakta-fakta yang terjadi di lapangan
2.6 Penerapan Empirisme
a.
Penerapan empirisme pada kehidupan
sehari – harinya terbilang sederhana. Penerapan empirisme berarti manusia
menggunakan pengalamannya sebagai pengetahuan. Pada lingkup pendidikan
misalnya, salah satu contoh penerapan empirisme adalah pelaksanaan Experiental Learning, yakni
pendekatan yang dilakukan oleh guru kepada siswa , yang berlandaskan pemikiran
bahwa cara belajar terbaik adalah dari pengalaman. Metode ini berarti
lebih menekankan siswa agar lebih aktif dalam kegiatan belajar , daripada
terpaku pada teori di buku.
b.
Penerapan empirisme pada pribadi
dapat diambil contoh seperti ketika seseorang ingin mencari tahu seperti apa
rasa sebuah cabai, maka ia harus merasakan dengan memakan cabai tersebut.
Setelah ia mencobanya, ia akan mengetahui bahwa cabai itu pedas.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Emperisme
merupakan suatu paham filsafat yang menggunakan pengalaman dalam memperoleh
pengetahuan. Empirisme merupakan lawan dari rasionalisme. Dalam empirisme,
pengetahuan tentang kebenaran yang sempurna tidak diperoleh melalui akal,
melainkan di peroleh dari panca indera. Akan tetapi empirisme tidak dapat
digunakan dalam semua ilmu. Metode empiris mempunyai lingkup khasnya dan tidak
bisa diterapkan dalam ilmu lainnya. Contohnya seperti obyek yang tidak bisa
dipecahkan lewat pengalaman inderawi seperti hal-hal yang immaterial. Selain
itu, terbatasnya fungsi indera menyebabkan sempitnya lingkup yang dapat
dijangkau dengan empirisme.